Produksi Buah Pepaya Varietas Callina

Produksi Buah Pepaya Varietas Callina
Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman buah, berupa herba dari famili caricaceae yang berasal dari Amerika Tengah dan Hindia Barat, bahkan kawasan sekitar Meksiko dan Costa Rica. Tanaman papaya banyak ditanam baik di daerah tropis maupun subtropis, di daerah basah dan kering, atau di daerah dataran rendah dan pegunungan (Soedarya, 2009). 

Dalam pengembangan pepaya terdapat permasalahan antara lain adalah produktivitasntya saat ini yang masih rendah yaitu antara 30 kg dan 40 kg per pohon (RUSNAS, 2002). 

Pohon Pepaya Callina lebih pendek dibanding jenis pepaya lain, paling tinggi lebih kurang 2 meter. Daunnya berjari banyak dan memiliki kuncung di permukaan pangkalnya. Buahnya berkulit tebal dan permukaannya rata, dagingnya kenyal, tebal, dan manis rasanya. Bobotnya berkisar antara 600 g sampai dengan 2 kg (Agro Kates Mandiri,2010).

Pada saat ini tingkat kecerdasan masyarakat yang semakin meningkat, permintaan akan buah organik juga semakin meningkat. Masyarakat modern makin menyadari pentingnya buah-buahan yang bersifat alami, bebas bahan kimia berbahaya dan asupan buahan lainnya. Buah-buahan yang memenuhi syarat tersebut adalah buah organik yang dihasilkan dari lahan pertanian organiki. Buah organik adalah produk pangan yang dihasilkan dari suatu sistim pertanian organik yang menerapkan keseimbangan ekosistem secara terpadu, yakni dengan meminimalisasi penggunaan zat kimia sintetis atau penggunaan pupuk non-organik, hingga bahan-bahan kimia lainnya seperti pestisida, insektisida, dan lain-lain Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI), sistem pangan organik adalah sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agro-ekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kandungan gizi pangan organik memang lebih tinggi daripada pangan non-organik. Penelitian di Australia menunjukkan bahwa buah-buahan organik yg biasa dijual di supermarket mempunyai kandungan mineral 10x lebih tinggi daripada buah-buahan non-organik (konvensional) sejenis (Melilea, 2010).

Lahan kering di Indonesia umumnya didominasi oleh tanah podsolik merah kuning (ultisol). Tanah jenis ini bereaksi masam , miskin unsur hara esensial, mudah tererosi, mempunyai kandungan aluminium dan mangan yang tinggi serta kandungan bahan organik yang rendah (Marpaung, 1998). Menurut Djafar dan Halimi (1998), jenis tanah yang mendominasi lahan pertanian di Sumatera Selatan sangat beragam. Sebagian besar lahan kering yang didominasi oleh tanah jenis ultisol yang merupakan lahan marginal dengan luasan terbesar di Indonesia. Jenis tanah ini merupakan jenis tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut bereaksi masam dengan kadar bahan organik rendah, kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, serta unsur hara NPK rendah (Firmansyah et al, 2000). 

Untuk upaya pemecahan masalah budidaya pada lahan kering masam dapat ditempuh dengan menyediakan varietas tanaman yang adaptif atau toleran pada kondisi lingkungan tersebut maupun penyediaan teknologi pebaikan kesuburan lahan. Upaya dengan menggabungkan kedua cara tersebut dianggap lebih efektif untuk mencapai tingkat produktivitas yang menguntungkan. Varietas unggul yang adaptif pada kondisi lahan suboptimal merupakan teknologi yang mudah diadopsi petani (Arsyad, 2003)

Setiawan (1996) mengungkapkan bahwa pengaruh pemberian pupuk organik terhadap sifat tanah antara lain dapat memudahkan penyerapan air tanah, memperbaiki tanah dalam mengikat air tanah, mengurangi erosi memberikan lingkungan tumbuh yang baik bagi bibit dimana akar akan tumbuh sehat dan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman. Sujiprihati dan Suketi (2009) menyatakan, tanaman papaya membutuhkan pupuk anorganik berupa unsur N, P,dan K sebesar 300 g tanaman per tiga bulan. Untuk satu kali periode membutuhkan dua kali pemupukan sehingga jumlahnya mencapai 600 g NPK tanaman-1 sampai 900 kg hektar.

Warisno (2003) dan Kalie (2007) menyatakan bahwa, pupuk organik yang dianjurkan untuk tanaman papaya adalah 40 ton sampai 60 ton hektar-1 tahun-1 atau sekitar 20 kg sampai 40 kg tanaman. 

Menurut Soedarya (2009), pada saat ini banyak lahan pertanian yang kebutuhan haranya bergantung pada bahan kimia. Dari pupuk hingga insektisida, semua dibuat dari bahan kimia, sehingga lama-kelamaan lahan pertanian tersebut akan menjadi jenuh dan tingkat kesuburannya menjadi rendah. Hal tersebut terjadi karena berkurangnya kandungan bahan organik di dalam tanah.

Berdasarkan pernyataan di atas perlu dilakukan penelitian tentang produksi buah papaya callina (Carica papaya. L) pada kombinasi pupuk organik dan anorganik di tanah ultisol.

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk melihat pengaruh kombinasi pupuk organik dan pupuk anorganik terhadap hasil pepaya Callina di tanah ultisol

Posting Komentar

0 Komentar