Pengertian “Organisasi” Atau “Keorganisasian”

Pengertian “Organisasi” Atau “Keorganisasian” 
Sama halnya dengan kelembagaan, setidaknya juga ada lima tekanan yang diberikan kepada istilah “organisasi” atau” keorganisasian”. Pertama, istilah organisasi sosial (social organization) diartikan sebagai kesalinghubungan antar bagian, yang dinilai esensial bagi tercapinya suatu kesatuan sosial, baik pada satu grup kecil, komunitas, maupun masyarakat yang lebih luas. George C. Hommans dalam The Human Groups, tahun 1950, dengan tekanan pada sistem sosial menyatakan bahwa social organization merupakan “…… the interrelated parts of social system are interaction, and sentiment” (Mitchell, 1968: 173). Dengan pengertian yang relatif sama, Herbert Spencer dalam The Principles of Sociology, terbit tahun 882, berpendapat bahwa apa yang dimaksud dengan ‘organisasi sosial’ merefer kepada adanya kesalinghubungan baik berupa integrasi maupun diferensiasi yang terjadi baik pada bidang ekonomi, politik, dan bagian lain dalam masyarakat.

Kedua, berkenaan dengan aspek peran. Kesaling hubungan tersebut dibutuhkan karena tiap bagian memiliki peran yang berbeda-beda. Talcot Parsons dalam Beneral Theory in Sociology, menyatakan bahwa semua sistem sosial diorganisasikan dalam kesadaran bahwa mereka berbeda secara struktural. Jadi, tekanannya ada pada peran yang disadari berbeda, dan stuktur. ‘Peran’ dan ‘struktur’ inilah yang menjadi fokus “organisasi sosial”.

Ketiga, berkenaan dengan struktur. Dalam perkembangannya, istilah organisasi sosial memiliki dua penggunaan: “(a) to refer the particular kind of organization under study (e.g. the social organization of a factory), and (b) casually, as a synonym for social structure or related term” Terlihat, bahwa definisi yang kedua memberi tekanan pada struktur. Satu penulis lain yang menguatkan pendapat ini adalah Uphoff. Ia menyatakan bahwa organisasi merupakan suatu struktur dari peran yang diterima, yang dihasilkan dari interaksi peran. “Organizations are structures of recognized and accepted roles. The structures that results from interactions of roles can be complex or simple” (Uphoff, 1986: 8).

Demikian pula dengan Beals et al. (1977: 437) yang melihat bahwa struktur sosial merupakan fokus pokok ketika membicarakan organisasi sosial. Penggunaan kata “struktur’ merupakan perluasan dari konsep struktur yang biasa digunakan dalam mengkaji masyarakat, yang berkenaan dengan status, posisi, peran, serta label. Analisa tentang struktur dalam membicarakan grup primer, face to face grup, maupun grup sekunder, perbedaannya terletak pada bagaimana keanggotaan dicapai, apa yang anggota lakukan, bagaimana keputusan dibuat, seberapa tingkat keformalannya, dan seberapa hierarkhisnya.

Dalam pemahaman dasar teori evolusi, perkembangan dunia yang terjadi dianggap terjadi secara linier akan dicirikan terutama oleh semakin meningkatnya diferensiasi peranan. Pada gilirannya, setiap peran membutuhkan koordinasi; dimana struktur, dalam arti penentuan posisi serta perannya, merupakan pengendali berjalannya suatu sistem sosial. Dalam konteks ini Talcott Parson menyatakan bahwa suatu organisasi sosial merupakan “……… all social system are organized in the sense that they are structurally differentiated” (Mitchell, 1968: 173). Bahwa posisi dan peran menjadi hal yang utama dalam struktur juga dinyatakan oleh Firth (1964: 60): “…… Organization implies a systematic ordering of position and duties which defines a chain of command and makes possible the administrative integration of specialized functions towards a recognized limited goal….”.

Keempat, selain posisi dan tugas, ‘tujuan’ juga menjadi penentu yang pokok dalam suatu organisasi sosial. Ciri utama organisasi dibandingkan dengan kelembagaan, menurut sebagian penulis, adalah “kelompok sosial yang memiliki tujuan”. Dengan kata lain, tujuanlah yang mengawali terbentuknya suatu organisasi. Implikasi dari kalimat ini secara tak langsung ingin mengatakan bahwa, kelembagaan seolah-olah terbentuk bukan arena tujuan. Hal ini tentu tak sepenuhnya benar, karena kelembagaan juga terbentuk karena berorientasi pada tujuan, meskipun terbentuknya lambat laun, sehingga seolah tidak disadari.

Menurut Harry M. Johnson (1960: 280), sebagai seorang penulis yang telah membedakan dengan tegas antara social instution dengan social organization. Ia menyebut ‘tujuan’ sebagai spirit utama suatu organisasi. Katanya: “Organization refers to an aspect of interaction system; namely their structure insofar as this may be regarded as having a bearing on the attainment of system goals ….”. Organisasi adalah suatu sistem sosial yang memiliki tujuan. Dua tujuan organisasi sosial secara umum adalah ‘produktivitas’ dan ‘memenuhi kepuasan’.

Kelima, formaitas. Menurut Berelson dan Steiner (1964: 55-69), ada empat ciri yang dimiliki oleh organisasi sosial, yaitu: formalitas, hierarkhi, besarnya dan kompleksnya, serta lamanya (duration). Formalitas dicirikan oleh perumusan tertulis peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, prosedur, kebijaksanaan, tujuan, strategi dan lain-lain. Hierarkhi merupakan suatu pola kekuasaan dan wewenang yang berbentuk piramida. Sementara, besarnya dan kompleksnya suatu organisasi terjadi karena anggotanya banyak, hubungan antar anggota tidak langusng (impersonal). Hal ini merupakan gejala birokrasi. Dan terakhir, aspek lamanya (duration), dicirikan oleh eksistensinya yang lebih lama daripada keanggotaan orang-orang di dalam organisasi tersebut.

Satu hal yang sedikit membingungkan adalah, istilah organisasi memiliki dua penggunaan sekaligus, yaitu merefer kepada jenis khusus dari organisasi dan sebagai sinonim terhadap struktur sosial atau hal-hal lain seputarnya. Selain itu, kata “organisasi” juga merefer untuk menunjukkan suatu tipe grup yang biasanya disebut sebagai “birokrasi”. Sosiolog dan ahli filsafat sosial generasi pertama menggunakan istilah tersebut dengan melihat kepada masyarakat, sedangkan sosiolog terakhir menggunakannya ketika membicarakan tentang grup dengan seluruh ukuran. Dengan kata lain, organisasi dulu diberi konteks yang lebih luas, dan kemudian menciut terbatas hanya untuk konteks yang lebih sempit.

Organisasi sosial dapat dianalisis dalam tiga level, yaitu dalam relasi antar pribadi, dalam asosiasi dan komunitas, dan dalam masyarakat. Subjek tersebut lebih jauh berkaitan dengan suatu cara yang umum dalam pembahasannya pada grup primer, asosiasi, keluarga, religi, pendidikan, minoritas, serta kriminal dan delinquency.

Organisasi juga merupakan bidang kajian pokok dalam ilmu antropologi (lihat misalnya Belas, 1977). Istilah organisasi sosial menunjuk kepada sekumpulan orang yang saling berhubungan untuk memfasilitasi dan melaksanakan aktivitas dari satu grup atau komunitas tertentu. Suatu organisasi dapat dipandang secara struktural dan secara proses.

Analisa secara srtuktural adalah melihat hubungan atau bagaimana cara anggota diorganisasikan, khususnya berkenaan dengan posisi masing-masing anggota. Sedangkan analisa secara proses, mempelajari berbagai aktivitas yang dipakai untuk menjaganya (maintain). Dalam topik “organisasi sosial” juga dipelajari apa perilaku yang diharapkan dari anggota, dalam konteks boleh dan tidak boleh. Jika dicermati, tampaklah bahwa analisis secara struktural lebih dekat dengan apa yang kita kenal dengan aspek organisasi, sedangkan analisa prosesual selaras dengan aspek kelembagaannya.


Penelahaan pada suatu keluarga inti (nuclear familiy) misalnya, maka yang dimaksud dengan status terdiri dari orang tua, suami, isteri, ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, saudara laki-laki, dan saudara perempuan. Sedangkan aspek proses membicarakan tentang apa peran yang dilakukan pada status tersebut, yang diharapkan untuk dijalankannya, serta berbagai perilaku yang individu-individu tersebut tunjukkan. Perluasan pembicaraan tentang status secara lebih jauh, yaitu yang berkenaan dengan status atau posisi, peran, dan label; akan sampai kepada “struktur sosial”.

Dalam organisasi sosial dibicarakan tentang berbagai bentuk yang dibedakan misalnya atas bagaimana keanggotaan dicapai, apa yang anggota lakukan, bagaimana keputusan dibuat, seberapa tingkat keformalannya, dan seberapa hierarkhis mereka. Atas dasar pembagian ini kita mengenal adanya grup primer, kelompok tatap muka (face to face grup), dan grup sekunder.

Sesungguhnya masih banyak lagi pendapat para ahli tentang keorganisasian yang belum dicakup dalam tulisan ini karena organisasi sosial merupakan salah satu bidang kajian pokok dalam sosiologi. Dalam perkembangan terbaru, pembedaan atas besarannya menghasilkan berbagai cabang kajian sosologi, sehingga dikenal sosiologi kelompok kecil, sosiologi organisasi, sosiologi organisasi formal, sosiologi keluarga dan kekerabatan.

Posting Komentar

0 Komentar