Prinsip-prinsip Dasar Vaksinasi pada Ternak

Prinsip-prinsip Dasar Vaksinasi pada Ternak 

Konsep dan teori vaksinasi
Perkembangan tentang vaksin tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan ilmu Imunologi.¨ Imunologi: (immunis : bebas, logos:ilmu) adalah ilmu yang mempelajari system pertahanan tubuh.

Tahap Empirik:
Mithridates Eupatoris VI seorang raja dari Pontis Yunani, (132 – 63SM) dianggap ahli imunologi pertama. Cara: meminum racun sedikitdemi sedikit sehingga orang menjadi kebal terhadap racun. Dikenaldengan paham mithridatisme.¨ Pada abad ke 12, bangsa Cina mengenali bagaimana mengatasi penyakitcacar.Cairan atau kerak dari orang yang terkena cacar tapi tidak beratapabila dioleskan pada kulit orang sehat dapat melindungi terhadapcacar. Begitu pula orang timur tengah menggoreskannya pada orangdengan membubuhkan bubuk pada penderita cacar yang tidak parahakan melindungi keadaan yang lebih parah. Metode ini dikenaldengan: tindakan variolasi.Dr Edward Jenner (1749 – 1823), menggunakan bibit penyakit cacardari sapi untuk ditularkan pada manusia. Mulailah penggunaanvaksinasi untuk menggantikan istilah variolasi.Vacca: sapi.

Tahap Ilmiah
Louis Pasteur dkk (1822 – 1895), meneliti kemungkinan pencegahanpenyakit dengancara vaksinasi melalui penggunaan bibit penyakit yangtelah dilemahkan terlebih dahulu. Pada waktu itu digunakan untukmengatasi penyakit kholera yang disebabkan Pasteurella aviseptica.¨ Pfeifer (1880) murid Koch meneliti Vibrio cholerae untuk mengatasiwabah penyakit kholera.¨ Elie Metchnikof (1845 – 1916) mengungkapkan bagaimanamekanisme efektor bekerja dalam tubuh terhadap benda asing.Memperkuat pendapat Koch dan Neisser. Adanya mekanisme efektordari sel leukosit untuk mengusir bakteri dinamakan proses fagositosis.Sel tubuh yang memiliki kemampuan fagositosis dinamakan fagosit. Fodor (1886), ilmuwan pertama yang mengamati pengaruh langsung dari serum imun tehadap mikroba tanpa campur tangannya komponenseluler. Penemuan ini diperkuat oleh Behring dan Kitasato (1890).yang menunjukkan bahwa serum dapat menetralkan aktifitas tetanusdan difteri.Jules Bordet (1870 – 1961) mengemukakan bahwa untuk lisisdiperlukan 2 komponen yang terdapat dalam serum imun. Sebuah diantaranya bersifat termostabil yang dikemudian hari ternyata adalahantibody sedangkan komponen lainnya bersifat termolabil yangdinamakan komplemen. 

Pada saat itulah mulai diperkenalkan istilahantigen untuk memberikan nama bagi semua substansi yang dapatmenimbulkan reaksi dalam tubuh terhadapnya. Dan juga istilahantibody untuk substansi dalam serum yang mempunyai aktifitasmenanggulangi terhadap antigen yang masuk ke tubuh.¨ Penemuan oleh Fodor mengawali penelitian untuk mendukung teorimekanisme melalui imunitas humoral. Wright dan Douglas (1903),mengatakan proses fagositosis akan dipermudah apabila ditambahkanserum imun. Bahan yang diduga dikandung dalam serum itudinamakan opsonin.Jadi mekanisme efektor seluler dan humoralbersifat saling memperkuat.¨ Pada saat bersamaan ditemukan fenomena lain dalam imunologi yaituadanya penyimpangan dalam tubuh seseorang karena bereaksi terlalupeka. Pirquet membedakan fenomena tsb dalam bentuk “serumsickness”, alergi dan anafilaksis. Sampai Tahun 1940- an banyak dilakukan penelitian tentang aplikasidan pengembangan tentang fenomena imunologi khususnya dalampenyediaan serum imun (anti tetanus, anti rabies dll), reagen untukdiagnostik dan program vaksinasi.Felton, menemukan fenomena lain yaitu bahwa dalam tubuh mungkindapat timbul tidak adanya respon imun terhadap suatu subtansi atauantigen tertentu. Fenomena ini disebut toleransi imunologik.Feltonberhasil memurnikan untuk pertamakalinya antibody dari antiserumkuda terhadap pneumococcus.

Tahap Modern
Setelah pecah perang dunia II, Miller menemukan peranan sentralkelenjar Thymus dalam system kekebalan.Munculah kemudianimunopatologi, imunogenetika, imunokimia, psikoneuroimunologi dan lain-lain. Tahun 1973 percobaan rekayasa genetika pertama berhasil dilakukan1975, hibridoma yang menghasilkan antibody monoclonal pertamakalidiciptakan.Tahun 1980 Benacerraf, Dausset dan Snell menerima hadiah Nobelberkat jasanya mengungkapkan masalah antigen permukaan sel yangpenting dalam usaha orang untuk mencangkokkan organ melaluisystem HLA.untuk menjelaskan penolakan jaringan.Antibodi monoclonal menerima ijin di AS untuk digunakan dalamdiagnosis Tahun 1984, Milstein dan Kohler mendapatkan Nobel untuk jasanyadalam menemukan cara memproduksi antibody monoclonal1984, interferon hewan diijinkan penggunaannya dalam mengatasipenyakit ternak¨ Tahun 1987, Susumu Tonegawa yang bekerja dalam biologimolekuler imunoglobulin mendapat hadiah Nobel atas jasanyamengungkapkan mekanisme diversitas antibody.

Sampai 1990-an: interferon digunakan untuk mengobati beberapapenyakit virus dan kanker, antibody monoclonal digunakan secaraluas, misalnya untk meningkatkan pertahanan tubuh terhadap kankerdan penyakit lainnya.Sampai tahun 2000-an: penggunaan secara luas rekayasa genetikauntuk menghasilkan AB monoclonal, antiserum, penggunaan secaraluas uji serologi, ELISA, analisis gel presipitasi (AGP), elektroforesis dan lain-lain untuk diagnosis penyakit dan pengobatan, pengembangankarakteristik antigen.

Pengendalian penyakit hewan adalah suatu upaya mengurangi interaksi antara hospes agent(penyebab penyakit) sampai pada tingkat dimana hanya sedikithewan yang terinfeksi, karena jumlah agen penyakit telahdikurangi atau dimatikan, oleh sebab hospes telah dilindungi danatau atau infeksi pada hospes dapat dicegah. Salah satu cara untuk melakukan pengendalian terhadap penyakitadalah dengan melakukan upaya pencegahan penyakit diantaranyadengan melakukan vaksinasi.Tujuan vaksinasi adalah memberikan kekebalan (antibodi) padaternak sehingga dapat melawan antigen atau mikroorganismepenyebab penyakit.

Vaksinasi adalah pemberian antigen untuk merangsang system kebalmenghasilkan antibody khusus terhadap penyakit-penyakit yangdisebabkan oleh virus, bakteri dan protozoa.

‘Pengebalan hewan” dapat dilakukan melalui vaksinasi, imunisasi (pemberian antisera), peningkatanstatus gizi dan hal lain yang mampu meningkatkankekebalan hewan.

Mekanisme efektor dalam respon imun spesifik dilaksanakan melalui 2cara yaitu:
1. imunitas humoral, yang menggunakan substansi berbentuk globulinyang dinamakan antibody yang bersifat sangat spesifik
2. imunitas seluler, yang semata-mata melibatkan jenis limfosit yangdinamakan limfosit T.

Respon imun adaptif dibedakan dari respon imun alamiah karena adanya ciri-ciri umum sebagai berikut: (a) bersifat spesifik, (b) heterogen dan (c) memiliki memory.

Komponen system imun.Sistem imunterdiri dari komponen genetic, molekuler dan seluler yangberinteraksi membentuk jaringan komunikasi yang rumit dan luas.Komponen seluler utama dari system imun adalah makrofag dan limfosit.Sel makrofag memiliki fungsi dalam fagositosis dan respon imunalamiah.

Makrofag mampu menghasilkan beberapa mediator aktif yangdapat mengatur jenis dan besarnya respon imun. Gen yang terlibat dalamsystem imun akan menghasilkan molekul2 yang merupakan komponenmolekuler dalam system imun.Komponen molekuler misalnya antibody yang berbentuk globulin yangjenisnya sangat heterogen.

Fungsi Respon Imun. Sistem imun mempunyai 3 fungsi utama yaitu: pertahanan, homeostasisdan perondaan.Faktor yang mempengaruhi Sistem Imun: (a). Faktor Metabolik, (b) Faktor Lingkungan, (c) Faktor anatomic, (d) Faktor Fisologik, (e) Faktor umur, (f) Faktor antigen.

Struktur dan Fungsi Imunoglobulin.Imunoglobulin merupakan molekul protein yang mempunyai aktifitasantibody yaitu suatu kemampuan mengikat secara spesifik dengan

substansi yang membangkitkan respon imun sehingga dihasilkannyaimunoglobulin tsb. Contoh imunoglobulin: IgG, IgA, IgM, IgE dan IgD.

Program vaksinasi:
Program vaksinasi dilakukan berdasarkan pertimbangan antara lain:
1. prevalensi penyakit
2. resiko akan timbulnya penyakit,
3. status kekebalan dari bibit,
4. biaya pembuatan dan pemberian vaksin,
5. intensitas dan konsekwensi dari reaksi vaksin,
6. program pergantian flock,
7. ketersediaan vaksin
8. BC ratio dan lainnya.

Metode pemberian vaksin: 
1. vaksinasi in ovo yaitu pemberian vaksin ke dalam telur padahari ke 18 masa inkubasi,
2. vaksinasi semprot (spray) pasca penetasan dengan vaksin
3. aerosol
4. melalui suntikan subkutan,
5. melalui sayap,
6. tetes mata dan hidung,
7. air minum
8. intramuskuler.

Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang amat penting bagi mahluk hidup.Dengan pertahanan tubuh berjalan optimal, mahluk hidup dapat tumbuh berkembang, berproduksi dan bereproduksi dengan optimal.Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi. Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.



Dalam melakukan program vaksinasi tentu antara satu farm dengan farm lainnya bisa berbeda karena memang tidak ada yang baku. Program vaksinasi tergantung pada epidemiologi penyakit, sumberdaya yang ada di farm dan pertimbangan efisiensi dan efektifitas kerja. Program, metode dan dosis harus menjadi pertimbangan utama. Misalnya jika melalui air minum tentunya sudah mempertimbangkan air yang digunakan untuk melarutkan vaksin. Jumlah air minum ditentukan per 1000 ekor sesuai dengan umur ayam, suhu, jenis ayam, kelembaban dan lain-lainnya. 

Beberapa yang harus diperhatikan dalam penggunaan vaksin

1. Jenis tipe dan strain dari vaksin yan digunakan

a. Aktif
Contoh : Beberapa tipe lentogenik (Strain F, Strain B1, Hitchner, Lasota dll), tipe Mesogenik (misalnya strain Komarov)
b. Inaktif (Biasanya dalam larutan buffer phosphate ditambah alumuniu hydroxide gel sebagai adsorben.

2. Kemasan
Ada yang berbentuk vial, ampul dll dengan dosis yag berbeda-beda.

3. Daya simpan
Daya simpan terutama dipengaruhi oleh suhu. Sebagai contoh : beberapa jenis vaksin ND tahan 1 tahun pada suhu -5 ºC, 1 bulan pada suhu kamar dan 4 jam setelah direkonstitusi.

4. Rekonstitusi
Jenis pelarut, pengocokan berpengaruh terhadap afinitas.

5. Dosis dan aplikasi
Dosis, cara penggunaan, jumlah ternak yag divaksin, prevalensi, kesehatan ternak, agriklimat yang mempengaruhi keberasilan vaksin.

6. Reaksi dan imunitas
Vaksinasi kadang memberi reaksi yag tidak diharapkan seperti anaphilaxis, stress dll sehingga harus diperhatikan.

Pembuatan vaksin merupakan suatu proses yang rumit dan komplek. Sebagai contoh adalah bagaimana bagan alir pembuatan vaksin untuk mengatasi virus influenza yang dapat dilihat pada bagan alir di bawah.

Beberapa istilah penting:
Vaksin adalah bibit penyakit yang sudah dilemahkan atau sudahdimatikan dengan prosedur tertentu, digunakan untukmerangsang pembentukan zat kekebalan tubuh, dan dapatmenahan serangan penyakit.

Vaksinasi adalah usaha pengebalan hewan denganmenggunakan vaksin yang merupakan pertahanan keduadalam upaya mengendalikan dan memberantas wabah penyakit.

Sehat hygienis adalah secara kesehatan dapat dipertanggungjawabkandan bebas dari pencemaran bakteri dan residu bahan kimia.

Posting Komentar

0 Komentar