Konsep Manajemen Kesehatan Ternak, Pengendalian Penyakit Dan Kesejahteraan Ternak, Sistem Manajemen Mutu : Perubahan global, regional dan nasional secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi pengembangan agribisnis dan agroindustri produk peternakan. Dampak yang paling terasa adalah adanya tuntutan agar produk yang dihasilkan senantiasa kompetitif khususnya terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan mutu produk serta sistem penanganannya, sehingga secara kuantitatif dan kualitatif suatu produk mempunyai daya saing yang tinggi dan diterima oleh konsumen dengan baik karena secara normatif merupakan produk yang aman dan sehat.
Sistem keamanan pangan merupakan kebutuhan mendesak untuk ditumbuhkembangkan sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan kebutuhan zat gizi dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Dalam perspektif inilah mata kuliah Ilmu Manajemen Kesehatan Ternak dan Kesejahteraan ternak diajarkan, mengingat kesehatan ternak buka saja sebuah persoalan mikro yang nuansanya memiliki dampak makro bagi pembangunan manusia dan hubungan antar bangsa dan negara.
Pembangunan sub sektor peternakan mengalami perubahan-perubahan mendasar karena dihadapkan pada 3 (tiga) tuntutan yaitu (a) pemanfaatan teknologi peternakan yang semakin meningkat oleh karena tuntutan efisiensi dan standarisasi serta berkembangnya industrialisasi; (b) tuntutan kualitas produk peternakan dan keamanan konsumen sebagai akibat tuntutan kualitas hidup dan kehidupan yang semakin meningkat; (c) tuntutan sistem informasi yang lebih handal antara lain untuk keperluan “market intelegence”, sistem informasi pasar dan harga, peramalan wabah penyakit, tingkat produksi dan penyakit hewan sebagai akibat pembangunan yang semakin komplek dan kompetetif .
Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dari pokok bahasan ini adalah setelah mengikuti kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan konsep-konsep manajemen kesehatan ternak dan kesejahteraan ternak secara baik dan benar
Ruang Lingkup Manajemen Kesehatan Ternak
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya suatu organisasi dan proses penggunaan semua sumberdaya organisasi untuk tercapainya suatu organisasi yang telah ditetapkan. Dalam banyak hal, manajemen adalah suatu “seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang-orang”. Batasan atau definisi manajemen yang lain mengatakan bahwa manajer untuk mencapai tugas organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk menjalankan tugas-tugas yang tidak munkin akan dijalankan sendiri. Kesehatan ternak merupakan bagian integral sistem produksi.Oleh karena itu faktor-faktor produksi sangat mempengaruhi keberhasilan manajemen kesehatan ternak.
Manajemen kesehatan ternak dapat diartikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumberdaya yang dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar yang diinginkan.
Manajemen kesehatan ternak harus melalui suatu proses yaitu suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu pekerjaan. Untuk suatu kegiatan-kegiatan tertentu proses-proses kegiatan harus berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi produksi dan ekonomis serta penggunaan semua sarana dan prasarana secara efektif dengan kaidah-kaidah yang lazim berlaku dalam kesehatan dan kesejahteraan ternak. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan tersebut di atas diperlukan sifat interaktif dari proses manajemen .
Perencanaan
Dalam manajemen kesehatan ternak perencanaan program kesehatan ternak memiliki peranan yang penting. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah (a) sejauhmana gambaran peta epidemiologi di daerah lokasi peternakan dan sekitarnya telah diperoleh dan dipelajari, (b) sejauhmana catatan atau recording tentang penyakit-penyakit endemic di daerah tersebut diperoleh, (c) prevalensi, angka mortalitas dan morbiditas ternak baik akibat serangan penyakit maupun karena faktor lain, (d) sejauhmana kualitas produksi ternak dan kualitas hasil ternak yang dihasilkannya selama proses produksi, (e) metode dan aplikasi usaha pencegahan dan pengobatan berdasarkan evaluasi kasus-kasus terdahulu, dan (f) memperbaiki kendala-kendala yang sering dihadapi selama proses produksi berlangsung. Khususnya yang berkaitan dengan pengendalian penyakit. Perencanaan merupakan bagian penting dalam manajemen kesehatan ternak dan kesejahteraan ternak karena munculnya kasus penyakit relatif lebih sulit diramalkan dibandingkan faktor produksi yang lain.
Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah suatu proses pengaturan dan pengalokasian kerja, wewenang dan sumberdaya di lingkungan peternakan sehingga tujuan usaha peternakan dapat dilakukan secara efisien dan efektif. Struktur, koordinasi dan rancangan organisasi dapat didesain sesuai karakteristik dan pola usaha peternakan. Struktur organisasi dalam manajemen kesehatan harus dapat dideskripsikan dalam bentuk (a) adanya rincian jenis pekerjaan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, (b) membagi seluruh beban menjadi kegiatan yang logis, (c) penggabungan tugas dengan cara yang logis dan efisien, (d) adanya mekanis koordinasi dan (e) memantau efektivitas struktur manajemen. Koordinasi adalah proses pemaduan sasaran dan kegiatan unit –unit kerja yang terpisah untuk dapat mencapai tujuan secara efektif. Kunci koordinasi yang efektif adalah komunikasi.
Kepemimpinan dan Pengendalian
Dalam manajemen kesehatan ternak kepemimpinan diperlukan untuk mengrahkan, mempengaruhi dan memotivasi para karyawan di lingkungan peternakan supaya termotivasi untuk menjalankan tugas-tugas pokok dalam pengendalian penyakit.Seorang manajer kesehatan ternak yang baik harus juga mampu berungsi dalam pengendalian manajemen disamping kompetensi keilmuan di bidang tersebut. Ada empat unsur utama yang harus dimilikinya yaitu (a) menetapkan standar kinerja, (b) mengukur kinerja yang sedang berjalan, dan (c) membandingkan kinerja tersebut dengan standar yang telah ditetapkan dan (d) mengambil tindakan untuk memperbaiki jika ada kesalahan.
Manajemen Kesehatan Ternak dan Pengendalian Penyakit
Ada dua hal yang harus diperhatikan agar tujuan manajemen kesehatan ternak mampu manghasilkan tujuan organisasi. Pertama adalah kompetensi keilmuan khususnya manajer (dokter hewan), dan paramedis atau pekerja lain yang memiliki kompetensi dasar dalam bidang pengendalian penyakit. Kedua adalah kompetensi dalam manajemen produksi dan pengendalian penyakit.Disamping factor internal pengendalian penyakit sangat dipengaruhi factor eksternal.Manajer yang baik harus memiliki kemampuan baik secara teoritis maupun mampu dengan cepat menganalisis faktor-faktor lain yang sering mengganggu produktivitas ternak.Dalam ilmu produksi, pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi sehingga proses produksi berlangsung optimal dan diperoleh efisiensi ekonomi dan pencapaian suatu produk yang berkualitas dengan memperhatikan aspek keamanan pangan pada konsumen.
Ada dua hal yang harus diperhatikan agar tujuan manajemen kesehatan ternak mampu manghasilkan tujuan organisasi. Pertama adalah kompetensi keilmuan khususnya manajer (dokter hewan), dan paramedis atau pekerja lain yang memiliki kompetensi dasar dalam bidang pengendalian penyakit. Kedua adalah kompetensi dalam manajemen produksi dan pengendalian penyakit.Disamping factor internal pengendalian penyakit sangat dipengaruhi factor eksternal.Manajer yang baik harus memiliki kemampuan baik secara teoritis maupun mampu dengan cepat menganalisis faktor-faktor lain yang sering mengganggu produktivitas ternak.Dalam ilmu produksi, pengendalian penyakit pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi sehingga proses produksi berlangsung optimal dan diperoleh efisiensi ekonomi dan pencapaian suatu produk yang berkualitas dengan memperhatikan aspek keamanan pangan pada konsumen.
Bagan Tata Letak Ilmu Manajemen Kesehatan dan Ilmu-ilmu Lainnya
Sejalan dengan perkembangan jaman, masalah penyakit pada ternak dan pemahamannya mempunyai dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan banyak faktor dan variabel.Penyakit ternak berkaitan dengan isu global yang memiliki dimensi ekonomis, politik, lingkungan bahkan juga hubungan bilateral dan multilateral antar negara serta agama.
Beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan produktivitas dan efisiensi ekonomi dalam industri peternakan adalah:
1. Kesehatan ternak
2. Performans yang baik
3. Rasio konversi pakan yang baik
4. Ketersediaan zat nutrisi yang baik dan seimbang
5. Memperbanyak by product dari industri pangan
6. Pemanfaatan bahan pakan yang tersedia.
Dalam hal penentuan kualitas pangan termasuk pangan produk hasil ternak beberapa faktor yang menjadi bahan pertimbangan antara lain adalah:
1. Aspek kandungan nutrisi
2. Aspek kesehatan dan higienis
3. Aspek cita rasa, warna dan tekstur
4. Aspek ekologi
5. Aspek kesejahteraan ternak
6. Asal usul ternak dan kehalalan
7. Image dari makanan (daging)
8. Harga yang kompetitif.
Definisi-Definisi dan Sistem Pengendalian Penyakit
Beberapa definisi yang perlu dimengerti dalam kaitannya dengan manajemen kesehatan ternak adalah sebagai berikut:
Pengendalian penyakit adalah usaha untuk melindungi ternak dan manusia melalui sistem pencegahan dan pengobatan terhadap gangguan penyakit baik yang bersifat menular maupun tidak menular.
Kesehatan ternak adalah suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisilogis berfungsi normal.
Kesehatan Masyarakat Veteriner adalah segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Mutu adalah pemenuhan persyaratan dengan meminimkan kerusakan yang mungkin timbul atau standar of zero defect
Hewan Sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan status kesehatan sebagai berikut: (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) bebas dari penyakit zoonosis, (c) tidak mengandung bahan-bahan yg merugikan manusia sebagai konsumen dan (d) berproduksi secara optimum (daging, telur, susu)
Ukuran Keberhasilan Pengendalian Penyakit
Untuk mengukur keberhasilan pengendalian penyakit dalam usaha peternakan maka peternak harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini, yaitu:
1. Angka sakit (morbiditas), diukur dari banyak tidaknya jumlah ternak yang sakit.
2. Angka Kematian (mortalitas), diukur atau diamati oleh banyak tidaknya jumlah ternak yang mengalami kematian.
3. Angka kecelakaan atau kasus yang terjadi misalnya patah tulang, jatuh dll
4. Jumlah kelahiran ternak/tingkat reproduksi dicapai.
5. Pencapaian pertambahan bobot badan
6. Kejadian penyakit yang berulang dalam satu musim
7. Kerusakan karkas atau daging, reject oleh konsumen
8. food borne disease
9. tingkat kepuasan/pelayanan
Siskeswannas, Manajemen Risiko dan Keamanan Produk Ternak
Dalam rangka pemantapan peternakan sebagai industri biologis yang dikendalikan manusia, maka perlu dukungan yang ideal dalam tugas dan peran bidang kesehatan hewan.Kondisi yang ideal berupa ternak sehat, lingkungan budidaya yang bebas dari penyakit berbahaya, produk peternakan yang aman, sehat, utuh/murni, dan halal untuk konsumsi manusia. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas maka pemerintah mempunyai sistem pendekatan kesehatan yang disebut dengan Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas).
Dalam Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas), kesehatan hewan dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat (public health), bagian dari penyediaan bahan pangan asal hewan (food of animal origin), dan bagian dari pembangunan pertanian secara keseluruhan. Prinsip-prinsip dasar dari sistem pengawasan bahan pangan asal hewan yang berisiko menyebabkan kerusakan dan kontaminasi mikroorganisme meliputi pencegahan dini (preventive measure), pengawasan proses produksi mulai dari tahap awal sampai distribusi produk akhir (in-process inspection), dokumentasi prosedur dan hasil pengawasan dengan baik dan benar (record keeping) dan pengujian laboratorium. Dilaksanakan dan diterapkannya sistem keamanan pangan yang baku secara tidak langsung akan dapat meningkatkan daya saing produsen.
Secara garis besar Siskeswannas memiliki komitmen dalam hal wawasan, dimana kesehatan hewan harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, bagian dari penyediaan pangan asal ternak dan bagian dari pembangunan pertanian. Pendekatan Siskeswannas adalah merubah pendekatan hewan (animal diseases approach) ke pendekatan kesehatan hewan secara utuh (animal health approach). Sistem pembinaan kesehatan hewan nasional dikembangkan menjadi 4 subsistem yaitu (a) sub sistem pelayanan kesehatan hewan terpadu, (b) subsistem pengamanan lingkungan budidaya, (c) susbsistem pengamanan sumberdaya alam dan (d) susbsistem pengamanan hasil peternakan (Manual Kesmavet, 1997).
Salah satu kendala sehingga belum terwujudnya suatu produk yang benar-benar menjamin kesehatan masyarakat adalah adanya kesenjangan antara suatu peraturan perundangan dengan pelaksanaan di lapangan. Sistem kesehatan Hewan nasional tersebut nampaknya juga belum terpadu dan kurang dapat diimplementasikan khususnya dalam kaitannya dengan sistem perdagangan di pasar-pasar tradisional. Banyak sekali jenis pangan yang diperdagangkan kurang memenuhi syarat minimum kesehatan, misalnya karena tercemar mikroorganisme, penggunaan bahan tambahan pangan dan bahan kimia non pangan. Kendala utama kenapa pelaku tata niaga kita belum dapat mengadopsi teknologi dalam sistem keamanan pangan adalah belum dikembangkan dan dipahaminya “manajemen risiko” dalam sistem keamanan pangan oleh kalangan usahawan kita. Untuk meningkatkan kinerja manajemen resiko memerlukan skill (keterampilan), pendidikan dan pelatihan serta komitmen yang kuat akan produk yang dihasilkannya.
Manajemen risiko tidak harus dilakukan oleh industri peternakan atau usaha peternakan yang besar-besar saja. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa aplikasi manajemen resiko yang dilakukan oleh perusahaan kecil mampu meningkatkan pendapatan karena pada umumnya konsumen sangat komitmen terhadap produk yang sehat. Keamanan pangan secara umum, merupakan hal yang kompleks dan sekaligus merupakan dampak dari interaksi antara toksisitas mikrobiologik, kimiawi, status gizi dan ketenteraman batin. Untuk pemenuhan bahan pangan hewani asal ternak khususnya daging disamping pemenuhan secara kuantitatif diperlukan juga pemenuhan syarat-syarat kualitatif (aspek nilai gizi), syarat-syarat higiene (aspek kesehatan), syarat-syarat dan keadaan yang menjamin ketenteraman bathin masyarakat yang menggunakan (aspek kehalalan).
Kebijakan Umum Pengendalian Penyakit
Pembangunan peternakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan sektoral dituntut untuk menyediakan bahan pangan asal hewan yang berkualitas dan aman bagi masyarakat konsumen. Untuk pemenuhan kebutuhan bahan pangan asal hewan diperlukan suatu sistem pengawasan, baik terhadap aspek kuantitatif/kualitatif maupun syarat-syarat higiene.
Untuk meningkatkan keamanan dan kualitas produk (daging, telur dan susu) maka dipandang ada 3 unsur utama yang terlibat dalam pengamanan/pengendalian tersebut yaitu sistem untuk meningkatkan pengamanan bahan pangan asal ternak maka diterapkan sistem pengendalian yang intensif yaitu pengamanan dilakukan sejak pra produksi, proses produksi, pengolahan, penanganan, penyimpanan, pengangkutan, pemasaran hingga kepada konsumen (preharvest food safety program). Dalam pelaksanaannya sistem pengamanan ditempuh melalui cara pengamatan (surveillance), pemantauan (monitoring) dan pemeriksaan (inspection) terhadap setiap mata rantai pengadaan bahan pangan asal hewan, (b) pengendalian infrastruktur, antara lain melalui perbaikan perangkat keras (program renovasi RPH), akreditisasi dan sertifikasi RPH sekaligus pemberian Nomor Kontrol Veteriner atau NKV (Manual Kesmavet, 1997).
Faktor-faktor yang berkaitan dengan Kesejahteraan Ternak
Sistem produksi, pengendalian penyakit dan kesejahteraan ternak merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu industri peternakan. Isi-isu lingkungan, animal welfare dan etika dalam industri peternakan pun akan sangat mewarnai dalam system perdagangan trnak di masa depan. Konsumen di masa depan akan makin kritis tidak saja terhadap masalah kesehatan masyarakat veteriner namun juga masalah di atas.
Welfare adalah suatu karakteristik pada suatu individu hewan pada saat diobservasi atau diukur.Observasi atau pengamatan tersebut harus dilakukan secara objektif.Ukuran moral harus digunakan untuk mengukur dan mengintepretasikan kesejahteraan suatu hewan.Ukuran kesejahteraan dapat dan harus diterapkan dalam sepanjang system produksi. Ukuran-ukuran yang dapat digunakan antara lain bagaimana status fisiologi , kerusakan fisiologi, respon fiiologi dan tingkah laku serta stress pada ternak selama ternak dipelihara dan juga pada saat penanganan akan dipotong. Para ilmuwan mengemukakan beberapa prinsip yang dapat dijadikan sebagai criteria untuk mengukur “animal welfare” yaitu laju pertumbuhan, efisiensi pakan, efisiensi reproduksi, angka kematian dan angka sakit. Indikator lainnya adanya kesejahteraan ternak yang terganggu adalah tekanan terhadap system kekebalan dan tingkah laku yang agresif.
Berikut ringkasan beberapa hal tentang “animal right” yang dikutip dari Robert E Taylor (1992).
Sejalan dengan perkembangan jaman, masalah penyakit pada ternak dan pemahamannya mempunyai dimensi yang lebih luas karena berkaitan dengan banyak faktor dan variabel.Penyakit ternak berkaitan dengan isu global yang memiliki dimensi ekonomis, politik, lingkungan bahkan juga hubungan bilateral dan multilateral antar negara serta agama.
Beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan produktivitas dan efisiensi ekonomi dalam industri peternakan adalah:
1. Kesehatan ternak
2. Performans yang baik
3. Rasio konversi pakan yang baik
4. Ketersediaan zat nutrisi yang baik dan seimbang
5. Memperbanyak by product dari industri pangan
6. Pemanfaatan bahan pakan yang tersedia.
Dalam hal penentuan kualitas pangan termasuk pangan produk hasil ternak beberapa faktor yang menjadi bahan pertimbangan antara lain adalah:
1. Aspek kandungan nutrisi
2. Aspek kesehatan dan higienis
3. Aspek cita rasa, warna dan tekstur
4. Aspek ekologi
5. Aspek kesejahteraan ternak
6. Asal usul ternak dan kehalalan
7. Image dari makanan (daging)
8. Harga yang kompetitif.
Definisi-Definisi dan Sistem Pengendalian Penyakit
Beberapa definisi yang perlu dimengerti dalam kaitannya dengan manajemen kesehatan ternak adalah sebagai berikut:
Pengendalian penyakit adalah usaha untuk melindungi ternak dan manusia melalui sistem pencegahan dan pengobatan terhadap gangguan penyakit baik yang bersifat menular maupun tidak menular.
Kesehatan ternak adalah suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusun dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisilogis berfungsi normal.
Kesehatan Masyarakat Veteriner adalah segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan, yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia.
Mutu adalah pemenuhan persyaratan dengan meminimkan kerusakan yang mungkin timbul atau standar of zero defect
Hewan Sehat adalah hewan yang tidak sakit dengan status kesehatan sebagai berikut: (a) bebas dari penyakit yang bersifat menular atau tidak menular, (b) bebas dari penyakit zoonosis, (c) tidak mengandung bahan-bahan yg merugikan manusia sebagai konsumen dan (d) berproduksi secara optimum (daging, telur, susu)
Ukuran Keberhasilan Pengendalian Penyakit
Untuk mengukur keberhasilan pengendalian penyakit dalam usaha peternakan maka peternak harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini, yaitu:
1. Angka sakit (morbiditas), diukur dari banyak tidaknya jumlah ternak yang sakit.
2. Angka Kematian (mortalitas), diukur atau diamati oleh banyak tidaknya jumlah ternak yang mengalami kematian.
3. Angka kecelakaan atau kasus yang terjadi misalnya patah tulang, jatuh dll
4. Jumlah kelahiran ternak/tingkat reproduksi dicapai.
5. Pencapaian pertambahan bobot badan
6. Kejadian penyakit yang berulang dalam satu musim
7. Kerusakan karkas atau daging, reject oleh konsumen
8. food borne disease
9. tingkat kepuasan/pelayanan
Siskeswannas, Manajemen Risiko dan Keamanan Produk Ternak
Dalam rangka pemantapan peternakan sebagai industri biologis yang dikendalikan manusia, maka perlu dukungan yang ideal dalam tugas dan peran bidang kesehatan hewan.Kondisi yang ideal berupa ternak sehat, lingkungan budidaya yang bebas dari penyakit berbahaya, produk peternakan yang aman, sehat, utuh/murni, dan halal untuk konsumsi manusia. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas maka pemerintah mempunyai sistem pendekatan kesehatan yang disebut dengan Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas).
Dalam Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas), kesehatan hewan dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat (public health), bagian dari penyediaan bahan pangan asal hewan (food of animal origin), dan bagian dari pembangunan pertanian secara keseluruhan. Prinsip-prinsip dasar dari sistem pengawasan bahan pangan asal hewan yang berisiko menyebabkan kerusakan dan kontaminasi mikroorganisme meliputi pencegahan dini (preventive measure), pengawasan proses produksi mulai dari tahap awal sampai distribusi produk akhir (in-process inspection), dokumentasi prosedur dan hasil pengawasan dengan baik dan benar (record keeping) dan pengujian laboratorium. Dilaksanakan dan diterapkannya sistem keamanan pangan yang baku secara tidak langsung akan dapat meningkatkan daya saing produsen.
Secara garis besar Siskeswannas memiliki komitmen dalam hal wawasan, dimana kesehatan hewan harus dipandang sebagai bagian dari kesehatan masyarakat, bagian dari penyediaan pangan asal ternak dan bagian dari pembangunan pertanian. Pendekatan Siskeswannas adalah merubah pendekatan hewan (animal diseases approach) ke pendekatan kesehatan hewan secara utuh (animal health approach). Sistem pembinaan kesehatan hewan nasional dikembangkan menjadi 4 subsistem yaitu (a) sub sistem pelayanan kesehatan hewan terpadu, (b) subsistem pengamanan lingkungan budidaya, (c) susbsistem pengamanan sumberdaya alam dan (d) susbsistem pengamanan hasil peternakan (Manual Kesmavet, 1997).
Salah satu kendala sehingga belum terwujudnya suatu produk yang benar-benar menjamin kesehatan masyarakat adalah adanya kesenjangan antara suatu peraturan perundangan dengan pelaksanaan di lapangan. Sistem kesehatan Hewan nasional tersebut nampaknya juga belum terpadu dan kurang dapat diimplementasikan khususnya dalam kaitannya dengan sistem perdagangan di pasar-pasar tradisional. Banyak sekali jenis pangan yang diperdagangkan kurang memenuhi syarat minimum kesehatan, misalnya karena tercemar mikroorganisme, penggunaan bahan tambahan pangan dan bahan kimia non pangan. Kendala utama kenapa pelaku tata niaga kita belum dapat mengadopsi teknologi dalam sistem keamanan pangan adalah belum dikembangkan dan dipahaminya “manajemen risiko” dalam sistem keamanan pangan oleh kalangan usahawan kita. Untuk meningkatkan kinerja manajemen resiko memerlukan skill (keterampilan), pendidikan dan pelatihan serta komitmen yang kuat akan produk yang dihasilkannya.
Manajemen risiko tidak harus dilakukan oleh industri peternakan atau usaha peternakan yang besar-besar saja. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa aplikasi manajemen resiko yang dilakukan oleh perusahaan kecil mampu meningkatkan pendapatan karena pada umumnya konsumen sangat komitmen terhadap produk yang sehat. Keamanan pangan secara umum, merupakan hal yang kompleks dan sekaligus merupakan dampak dari interaksi antara toksisitas mikrobiologik, kimiawi, status gizi dan ketenteraman batin. Untuk pemenuhan bahan pangan hewani asal ternak khususnya daging disamping pemenuhan secara kuantitatif diperlukan juga pemenuhan syarat-syarat kualitatif (aspek nilai gizi), syarat-syarat higiene (aspek kesehatan), syarat-syarat dan keadaan yang menjamin ketenteraman bathin masyarakat yang menggunakan (aspek kehalalan).
Kebijakan Umum Pengendalian Penyakit
Pembangunan peternakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dan sektoral dituntut untuk menyediakan bahan pangan asal hewan yang berkualitas dan aman bagi masyarakat konsumen. Untuk pemenuhan kebutuhan bahan pangan asal hewan diperlukan suatu sistem pengawasan, baik terhadap aspek kuantitatif/kualitatif maupun syarat-syarat higiene.
Untuk meningkatkan keamanan dan kualitas produk (daging, telur dan susu) maka dipandang ada 3 unsur utama yang terlibat dalam pengamanan/pengendalian tersebut yaitu sistem untuk meningkatkan pengamanan bahan pangan asal ternak maka diterapkan sistem pengendalian yang intensif yaitu pengamanan dilakukan sejak pra produksi, proses produksi, pengolahan, penanganan, penyimpanan, pengangkutan, pemasaran hingga kepada konsumen (preharvest food safety program). Dalam pelaksanaannya sistem pengamanan ditempuh melalui cara pengamatan (surveillance), pemantauan (monitoring) dan pemeriksaan (inspection) terhadap setiap mata rantai pengadaan bahan pangan asal hewan, (b) pengendalian infrastruktur, antara lain melalui perbaikan perangkat keras (program renovasi RPH), akreditisasi dan sertifikasi RPH sekaligus pemberian Nomor Kontrol Veteriner atau NKV (Manual Kesmavet, 1997).
Faktor-faktor yang berkaitan dengan Kesejahteraan Ternak
Sistem produksi, pengendalian penyakit dan kesejahteraan ternak merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu industri peternakan. Isi-isu lingkungan, animal welfare dan etika dalam industri peternakan pun akan sangat mewarnai dalam system perdagangan trnak di masa depan. Konsumen di masa depan akan makin kritis tidak saja terhadap masalah kesehatan masyarakat veteriner namun juga masalah di atas.
Welfare adalah suatu karakteristik pada suatu individu hewan pada saat diobservasi atau diukur.Observasi atau pengamatan tersebut harus dilakukan secara objektif.Ukuran moral harus digunakan untuk mengukur dan mengintepretasikan kesejahteraan suatu hewan.Ukuran kesejahteraan dapat dan harus diterapkan dalam sepanjang system produksi. Ukuran-ukuran yang dapat digunakan antara lain bagaimana status fisiologi , kerusakan fisiologi, respon fiiologi dan tingkah laku serta stress pada ternak selama ternak dipelihara dan juga pada saat penanganan akan dipotong. Para ilmuwan mengemukakan beberapa prinsip yang dapat dijadikan sebagai criteria untuk mengukur “animal welfare” yaitu laju pertumbuhan, efisiensi pakan, efisiensi reproduksi, angka kematian dan angka sakit. Indikator lainnya adanya kesejahteraan ternak yang terganggu adalah tekanan terhadap system kekebalan dan tingkah laku yang agresif.
Berikut ringkasan beberapa hal tentang “animal right” yang dikutip dari Robert E Taylor (1992).

Kesejahteraan hewan meliputi upaya-upaya untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan dasar hewan agar bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa sakit, bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk mengekspresikan perilaku alaminya.Upaya-upaya perlindungan dan pemenuhan kebutuhan dasar hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada pemeliharaan, pemanfaatan, pengangkutan, perdagangan, penyembelihan dan etanasi dan eliminasi.
Pemerintah bersama-sama masyarakat melakukan perlindungan hewan dan upaya-upaya mencegah perbuatan yang melanggar hukum berdasarkan ketentuan dalam undang-undang , untuk tidak :
a. menelantarkan hewan;
b. membunuh hewan untuk kesenangan dan atau tanpa tujuan tertentu;
c. memanfaatkan organ atau bagian organ hewan untuk tujuan pengobatan yang belumdidasari kajian ilmiah;
d. melakukan mutilasi kecuali untuk kepentingan kesehatan hewannya sendiri;
e. memberi bahan-bahan yang memacu fungsi normal fisiologis di luar kemampuan hewan;
f. melakukan tindakan transgenic yang di luar kodrat;
g. menelantarkan satwa liar yang dilindungi yang disita dalam rangka penyelamatan dan pengembalian ke habitat aslinya.
Menurut peraturan perundangan di beberapa negara, setiap orang atau badan hukum dilarang mempekerjakan atau mendayagunakan hewan muda sehingga merusak dan atau mempengaruhi kesehatan dan keselamatannya atau mengakibatkan kematiannya.Setiap orang atau badan hukum dilarang menganiaya dan atau menyakiti hewan sedemikian rupa sehingga mengakibatkan gangguan fisik dan atau psikologis dan atau kematian hewan.Setiap orang atau badan hukum dilarang memberi bahan-bahan yang memacu fungsi normal fisiologis di luar kemampuan hewan.Setiap orang atau badan hukum dilarang memanfaatkan organ dan atau bagian organ hewan hidup untuk tujuan yang tidak didasarkan kajian ilmiah.Setiap orang atau badan hukum dilarang membunuh hewan untuk kesenangan.
Sistem Manajemen Mutu (SMM)
Manajemen Mutu: Filsafat dan budaya organisasi yang menekankan kepada upaya menciptakan mutu yang konstan melalui setiap aspek dalam kegiatan organisasi.
Mutu: Tingkat karakteristik yang melekat pada suatu produk yang memenuhi preferensi konsumen
SMM adalah sistem manajemen untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu.Suatu sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang/ atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu, yang ditentukan oleh pelanggan dan organisasi.
Pengendalian Mutu adalahUsaha untuk menjaga dan mempertahankan kualitas produk agar sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan berdasarkan kebijakan puncak manajemen.
Konsep mutu :
Ø Quality as excellence.Mutu sbg keunggulan baik komparatif maupun kualitatif.
Ø Quality as fitness of&for purpose. Mutu sebagai upaya untuk pencapaian tujuan/maksud dan pewujudan maksud, konsep proses, pencapaian tujuan & perbaikan mutu.
Ø Quality as a threshold. Mutu Sebagai ambang minimal yang harus dicapai.
Ø Quality as added value. Mutu sebagai penambahan nilai.
Ø Quality as value for money. Mutu sebagai nilai nilai uang
Ø Satisfaction of the client. Mutu sebagai kepuasan pelanggan.
Standarisasi Meliputi kegiatan perumusan/membuat standar, menerbitkan standar, penerapan, pengujian, inspeksi, audit dan sertifikasi.Tingkatan standar :
1. Internasional : ISO, HACCP, Six Sigma,
2. Regional : Peraturan di Uni Eropa, Asia
3. Nasional : SNI, SMK3, JIS, BS, DIN
4. Perusahaan : Konsultan PT. Dwi Indah Lestari
HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
HACCP merupakan Suatu system yang mengidentifikasi Bahaya Spesifikyang mungkin timbul dan cara pencegahannya untuk mengendalikan bahaya tersebut. Tujuan Umum HACCP yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara mencegah atau mengurangi kasus keracunan dan penyakit melalui makanan (“Food born disease”). Sedangkan tujuan khususnya yaitu :
• Mengevaluasi cara produksi mkn àbahaya ?
• Memperbaiki cara produksi mkn à critical process
• Memantau & mengevaluasi penanganan, pengolahan, sanitasi
• Meningkatkan inspeksi mandiri
Kegunaan HACCP diantaranya yaitu :
• Mencegah penarikan makanan
• Meningkatkan jaminan Food Safety
• Pembenahan & “pembersihan” unit pengolahan (produksi)
• Mencegah kehilangan konsumen / menurunnya pasien
• Meningkatkan kepercayaan konsumen / pasien
• Mencegah pemborosan biaya
Adapun Prinsip-prinsip HACCP yaitu :
1. Identifikasi bahaya
2. Penetapan CCP
3. Penetapan batas / limit kritis
4. Pemantauan CCP
5. Tindakan koreksi thd penyimpangan
6. Verifikasi
7. Dokumentasi
Pemahaman Dasar 7 Prinsip HACCP
Cemaran Utama Produk :
· Kimia (obat hewan, residu pestisida, residu untuk sanitasi, kontaminasi bahan pakan dan kimia pada air)
· Biologi (bakteri, parasit, dan mikroorganisme lainnya)
· Fisik (sedimen, debu, rambut, lalat dan lain-lainnya)
3. Nasional : SNI, SMK3, JIS, BS, DIN
4. Perusahaan : Konsultan PT. Dwi Indah Lestari
HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)
HACCP merupakan Suatu system yang mengidentifikasi Bahaya Spesifikyang mungkin timbul dan cara pencegahannya untuk mengendalikan bahaya tersebut. Tujuan Umum HACCP yaitu meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara mencegah atau mengurangi kasus keracunan dan penyakit melalui makanan (“Food born disease”). Sedangkan tujuan khususnya yaitu :
• Mengevaluasi cara produksi mkn àbahaya ?
• Memperbaiki cara produksi mkn à critical process
• Memantau & mengevaluasi penanganan, pengolahan, sanitasi
• Meningkatkan inspeksi mandiri
Kegunaan HACCP diantaranya yaitu :
• Mencegah penarikan makanan
• Meningkatkan jaminan Food Safety
• Pembenahan & “pembersihan” unit pengolahan (produksi)
• Mencegah kehilangan konsumen / menurunnya pasien
• Meningkatkan kepercayaan konsumen / pasien
• Mencegah pemborosan biaya
Adapun Prinsip-prinsip HACCP yaitu :
1. Identifikasi bahaya
2. Penetapan CCP
3. Penetapan batas / limit kritis
4. Pemantauan CCP
5. Tindakan koreksi thd penyimpangan
6. Verifikasi
7. Dokumentasi
Pemahaman Dasar 7 Prinsip HACCP
- Lakukan Identifikasi bahaya untuk produk tsb
- Tetapkan CCP untuk produk tersebut (bahan, proses, atau formulasi)
- Tetapkan batas / limit kritis untuk CCP yang telah diidentifikasi
- Tetapkan langkah pemantauan CCP sesuai batas limit yang telah ditentukan
- Tetapkan tindakan koreksi jika ditemukan CCP yang melebihi batas kritis dari hasil pemantauan
- Tetapkan langkah-langkah verifikasi dari hasil tindakan koreksi CCP
- Jelaskan kegiatan dokumentasi yang diperlukan untuk penerapan HACCP
Cemaran Utama Produk :
· Kimia (obat hewan, residu pestisida, residu untuk sanitasi, kontaminasi bahan pakan dan kimia pada air)
· Biologi (bakteri, parasit, dan mikroorganisme lainnya)
· Fisik (sedimen, debu, rambut, lalat dan lain-lainnya)
0 Komentar